
Pestisida Dalam Makanan
PESTISIDA yang seharusnya untuk membasmi serangga dan hama tanaman, nyata-nyata banyak pula meracuni manusia. Keracunan yang dikarenakan tidak disadari, kebanyakan akibat pemakaian pestisida di lapangan dan di dalam rumah.
Korban keracunan di lapangan sudah tentu adalah para petani atau keluarganya, sedangkan korban keracunan di dalam rumah, siapa lagi kalau bukan mereka yang dengan gegabah menggunakan pembasmi serangga serta mereka yang tidak sadar bahwa beberapa jenis bahan pangan yang mereka beli dari pasar, khususnya buah dan sayuran, mungkin saja mengandung residu pestisida yang membahayakan.
Pestisida juga bisa saja nyasar ke dalam makanan, akibat tindak keteledoran para petani sayur dalam memperlakukan pestisida dengan dosis yang berlebih. Entah karena tidak tahu atau ndableg, merupakan kelaziman bahwa petani kita masih ada saja atau suka menyemprotkan pestisidanya sehari sebelum panen. Sebenarnya penyemprotan tanaman yang mau dipanen mestinya sudah harus dihentikan pada dua minggu hingga sepuluh hari sebelum dipanen.
Tenggang waktu tersebut diperlukan untuk memberikan kesempatan pestisida agar mengalami penguraian sehingga dalam kadar residu yang tidak membahayakan. Makin banyak petani menggunakan dosisnya sudah tentu memerlukan tenggang waktu makin lama. Tetapi kalau petani menyemprotnya baru dua atau tiga hari, itu sama artinya dengan meracuni mereka yang akan menyantap hasil panennya.
Berbagai penelitian para ahli membuktikan, di dalam sayuran yang menggunakan penyemprotan pestisida, ditemukan berbagai jenis residu seperti aldrin, diazinon, dieldrin, finitrothion, fenfoat, dan khlorpyrifos.
Walaupun kadar residu yang ada dalam buah dan sayuran tidak tinggi (masih dibawah nilai ambang yang diperbolehkan), namun bukan berarti tak perlu diwaspadai. Sebab meski yang masuk ke dalam tubuh kita dalam jumlah rendah, toh kalau hal itu berlangsung terus menerus pada gilirannya bisa menimbulkan efek yang tidak diinginkan.
Efek samar
Para ahli menyebut efek samar atau subklinik untuk jenis keracunan seperti ini. Diperkirakan, jumlah masyarakat yang terkena efek ini sangat besar, khususnya di daerah pedesaan, yang notabene masih menggunakan sumber air sembarangan. Selain menempel di tanaman, residu pestisida juga banyak yang sampai ke air dan tanah. Di sini pestisida berpengaruh pada biota air dan tanah, serta tentu saja manusia jika memang menggunakan air tersebut.
Sungguh mengerikan akibat yang bisa timbul oleh efek samar ini yaitu dengan kemungkinan munculnya kerusakan hati, ginjal, paru-paru, kelumpuhan, menjadi steril dan bahkan kerusakan otak.

Ada dua jenis keracunan yang di akibatkan oleh pestisida, yaitu keracunan akut dan sedang. Sesuai namanya, keracunan akut adalah akibat mengkonsumsi residu pestisida (pestisida) dalam jumlah banyak sekaligus. Tentu fatal akibatnya, karena bisa mematikan. Sedangkan keracunan sedang, biasanya korban tidak sampai dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit karena gejala umumnya hanya sub-klinis, seperti pusing-pusing, mual atau berkeringat berlebihan.
Mengurangi residu
Ada beberapa langkah untuk mengurangi residu yang menempel pada sayuran, antara lain dengan mencucinya secara bersih dengan menggunakan air yang mengalir, bukan dengan air diam. Jika yang kita gunakan air diam (direndam) justru sangat memungkinkan racun yang telah larut menempel kembali ke sayuran.
Berbagai percobaan menunjukkan bahwa pencucian bisa menurunkan residu sebanyak 70 persen untuk jenis pestisida karbaril dan hampir 50 persen untuk DDT. Mencuci sayur sebaiknya jangan lupa membersihkan bagian-bagian yang terlindung mengingat bagian ini pun tak luput dari semprotan petani. Untuk kubis misalnya, lazim kita lihat petani mengarahkan belalai alat semprot ke arah krop (bagian bulat dari kubis yang dimakan) sehingga memungkinkan pestisida masuk ke bagian dalam krop.
Selain pencucian, perendaman dalam air panas (blanching) juga dapat menurunkan residu. Ada baiknya kita mengurangi konsumsi sayur yang masih mentah karena diperkirakan mengandung residu lebih tinggi dibanding kalau sudah dimasak terlebih dulu. Pemasakan atau pengolahan baik dalam skala rumah tangga atau industri terbukti dapat menekan tekanan kandungan residu pestisida pada sayuran.
Tanda keracunan
Apakah semua sayuran yang ada di pasar mengandung residu pestisida? Tentunya kita harapkan tidak demikian adanya, namun kita tetap perlu waspada. Tanda orang yang keracunan pestisida dalam jumlah cukup tinggi bermacam-macam, tergantung jenis pestisida yang digunakan. Namun, pada umumnya berupa sakit kepala, pusing, mual sampai muntah, gemetar, kejang, penglihatan kabur, berair liur banyak, bahkan ada yang sampai kehilangan kesadaran.
Akan halnya keracunan samar-samar, gejala agak sulit dideteksi karena masuknya residu itu secara sedikit-sedikit tetapi berkepanjangan. Namun, yang jelas, kita harus waspada karena bahan aktif pestisida tidak terbuang ke luar melainkan cenderung berakumulasi, terikat dalam jaringan tubuh. Akumulasi yang terus menerus akan menyebabkan bersirat karsinogenik alias berpotensi memicu timbulnya kanker atau tumor. Akumulasi bahan aktif pestisida dalam tubuh juga memungkinkan lahirnya kerusakan hati, ginjal dan paru-paru.
Sayur-sayuran memang diperlukan tubuh untuk mencukupi kebutuhan kita akan berbagai mineral dan vitamin penting. Tetapi, karena di sana ada bahaya, kehati-hatian sangatlah dituntut dalam hal ini. Ada baiknya memang kalau kita tahu dari mana sayur itu dihasilkan. Tetapi paling aman pastilah kalau kita menghasilkan sayuran sendiri, dengan memanfaatkan pekarangan rumah, dengan pot sekalipun. ( Rudi Setiadi dan Eulis Kuraesin, A.Ma.Pd.)
Sumber: www.pikiran-rakyat.com
Puasa Bersihkan Racun Tubuh
Sebagai ibadah, puasa bulan Ramadhan, sangat besar manfaatnya. Bagi kesehatan pun demikian. Puasa memberikan istirahat atau mengurangi beban kerja organ-organ tubuh. Puasa pun membersihkan tubuh dari berbagai jenis racun dan membantu proses penyembuhan macam-macam penyakit. Demikian Prof.DR.Made Astawan, Ahli Teknologi Pangan dan Gizi dalam sebuah tulisannya di Kompas Cyber Media (KCM).
Kesibukan demi kesibukan telah kita lakukan pada setahun terakhir hidup ini. Pekerjaan sering mendapatkan prioritas utama dan dengan porsi waktu paling besar dalam kehidupan kita sehari-hari. Meskipun bekerla adalah ibadah, alangkah lebih baiknya jika ibadah yang lain juga dikerjakan dengan baik dan tulus, termasuk ibadah puasa.
Bulan suci Ramadan telah datang kembali menghampiri kita. Puji syukur patut kita panjatkan ke hadirat Allah SWT karena kita masih diberi kesempatan dan umur panjang untuk bertemu kembali dengan Man yang penuh barokah, pahala, dan pengampunan ini. Demikian pentingnya momen ini, sehingga kitapun harus penuh persiapan dan niat baik untuk menyambut dan menjalankannya secara ikhlas.
Ramadan merupakan ajang ‘pengendalian diri terhadap segala nafsu, yang dapat menjerumuskan kita ke keadaan yang tidak terpuji. Salah satu dari nafsu tersebut adalah nafsu makan. Makan itu sendiri adalah suatu kegiatan ibadah untuk menciptakan tubuh yang sehat. Dengan tubuh yang sehat, insyaAllah jiwa kita juga akan menjadi sehat sehingga dapat melakukan ibadah dengan lebih baik. Demikianlah satu ibadah akan menunjang pelaksanaan ibadah-ibadah yang lain, secara kait-mengait.
Kenyang Sumber Penyakit
Walaupun makan adalah suatu ibadah, makan yang berlebihan dan tak terkendali sangat tidak dianjurkan dalam Islam. Bagaimanapun, kapasitas lambung kita sangat terbatas. Dengan terbatasnya ruang lambung tersebut, Rasulullah SAW menganjurkan agar kita mengisinya secara proposional dengan sepertiga padatan (Makanan), sepertiga cairan (minuman) dan sepertiga udara untuk pernapasan. Secara ilmiah dan medis pun diakui bahwa komposisi itu adalah yang paling ideal.
Pertanda bahwa ruang lambung kita sudah hampir penuh atau hampir kosong adalah timbulnya rasa lapar dan haus, atau kenyang. Di otak kita terdapat pusat kendali lapar, haus, dan kenyang, yang ketiganya sangat sensitif dan selalu memberikan sinyal kepada tubuh untuk melakukan aksi responsif. Sensitivitas tersebut harus dijaga agar kita tidak menyiksa tubuh sendiri, baik siksaan akibat kelaparan maupun kekenyangan.
Anjuran agar kita makan jika sudah ada perasaan lapar dan berhenti makan sebelum kenyang, merupakan cara terbaik untuk menjaga sensitivitas tubuh. Konsep berhenti makan sebelum kenyang juga sejalan dengan Surat Al A’raf ayat 31 yang berbunyi, "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. " Makan secara berlebihan hingga perut sesak tidak diperkenankan dalam Islam. Seperti yang dikatakan oleh AlGazali, bahwa keadaan kenyang mengajak kepada bergeloranya syahwat-syahwat yang rendah dan menggerakkan berbagai penyakit di dalam tubuh. Rasullullah SAW pernah bersabda, "perut itu adalah rumah segala penyakit, dan membatasi atau menjaga makan adalah awal dari pengobatan, sedangkan permulaan segala penyakit adalah mengisi perut berlebih-lebihan.
Puasa sebagai Terapi
Tidak ada keraguan bahwa puasa itu menyehatkan bagi tubuh kita. Sebagaimana dinyatakan dalam surat Al Baqarah 184, yaitu "berpuasa lebih baik bagimu". Rasullulah SAW juga pernah bersabda "shumu tushihu" yang berarti "puasalah, niscaya kamu sehat".
Puasa dalam ajaran agama Islam adalah merupakan tindakan menahan hawa nafsu (termasuk makan, minum dan sanggama), sejak waktu imsak hingga waktu berbuka puasa tiba. Niatnya semata-mata karena ibadah kepada Allah SWT. Dari aspek gizi, puasa dapat mengurangi asupan zat-zat gizi, terutama energi, sekitar 20-30 persen.
Namun dari aspek kesehatan, puasa ternyata memberi manfaat kesehatan terhadap tubuh pelakuknya. Bahkan di negara-negara maju, puasa dijadikan sebagai salah satu upaya terapi (fasting therapy) untuk penyembuhan beberapa penyakit, khususnya penyakit akibat kelebihan makan.
Makan Sumber Racun
Makan dan minum wajib hukumnya untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari agar kita tetap hidup dan sehat. Namun, selain memasok zat gizi, makanan dan minuman juga membawa bahan toxik yang kemudian tertimbun di dalar tubuh selama bertahun-tahun.
Akumulasi senyawa toxik tersebut merupakan bom waktu bagi meletusnya berbagai penyakit. Cepat dan lambatnya hal tersebut terjadi sangat be kaftan dengan sistem imuniti tubuh dan status gizi seseorang.
Bahan toxik yang terbawa oleh makanan bisa bersumber dari lima hal, yaitu
(1) Secara alami terdapat di dalam makanan itu sendiri, seperti antitripsin pada kedele, asam jengkolat pada jengkol, dan hemaglutinin pada kacang-kacangan mentah.
(2) Akibat reaksi-reaksi kimia dari komponen pangan yang terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan.
(3) Akibat penambahan senyawa tertentu selama proses pengolahan pangan, misalnya penggunaan bahan tambahan pangan (food additives) secara berlebih atau penggunaan senyawa kimia yang beracun.
(4) Akibat migrasi senyawa beracun dari wadah/kemasan ke dalam makanan, misalnya monomer dari plastik atau logam best dari koran bekas.
(5) Akibat kontaminasi dari lingkungan yang tidak sehat, berupa kontaminasi senyawa kimia yang beracun atau mikroba penghasil racun.
Unsur toxik tersebut menjadi beban, sehingga tubuh dipaksa untuk bekerja melampaui batas kemampuannya. Akibatnya, kemampuan untu sehat kembali (recovery) menjadi kian terbatas. Karena itu, sekali waktu kita perlu ‘berpuasa" untuk membuat bahan-bahan beracun yang bisa menganggu sel, jaringan dan organ dalam tubuh. Begitu racun berhasil dilepaskan, tubuh akan punya kesempatan untuk sehat kembali.
Dari sudut pandang tersebut, puasa Senin-Kamis sangat bermanfaat untuk kesehatan. Demikian juga dengan puasa wajib Ramadhan dan puasa sunah lainnya. Hasil dari beberapa kajian ilmiah menunjukkan puasa terbukti aman bagi siapa saja. Puasa sangat efektif untuk tujuan membersihkan bagian dalam tubuh, regenerasi sel, dan peremajaan tubuh. Karena itu, puasa sebaiknya dilakukan secara teratur dan berkala.
Dengan berpuasa, secara otomatis kita telah mengurangi asupan makanan berlemak dan makanan tinggi kalori, nikotin, alkohol, kafein, gala, susu, daging, dan telur. Selain itu, berpuasa juga akan membatasi pemasukan garam dan bumbu yang mengandung monosodium glutamat (MSG), zat pemanis buatan, zat pewarna sintetik, zat pengawet kimia, bahan-bahan lain yang tidak dibutuhkan oleh tubuh.
Perlu Detoxifikasi
Detoxifikasi dapat diartikan sebagai pembersihan tubuh bagian dalam, terutama sistem pencernaan, terhadap berbagai jenis racun. Secara alamiah, usus besar (kolon) merupakan pusat kotoran, sehingga wajar kalau organ tersebut tidak bisa bersih 100 persen. Dengan berpuasa, usus menjadi tidak penuh seperti biasanya. Kosongnya usus akan mengurangi peluang kontak antara senyawa beracun (toxin) dengan usus, sehingga dapat mencegah timbulnya berbagai penyakit, terutama kanker kolon. Kanker koIon timbul akibat terjadinya kontak secara terus-menerus antara senyawa karsinogenik (penyebab kanker) dengan dinding kolon.
Salah satu dampak negatif dari makan yang berlebih adalah menumpuknya racun (toxin) di dalam tubuh. Racun tersebut merupakan salah satu metabolit dari proses metabolisme normal di dalam tubuh. Organ tubuh yang harus bekerja keras untuk mengatasi toxin tersebut adalah hati.
Hati harus melakukan proses detoxifikasi (penawaran racun) agar tidak meracuni tubuh. Kemampuan hati sangat tergantung dari toxin yang harus dilumpuhkan. Jika jumlah toxin berlebih karena pola makan yang selalu berlebih, hati tidak akan mampu untuk menetralkannya.
Ketidakmampuan hati untuk menetralkan racun menyebabkan racun tersebut akan terbawa oleh aliran darah ke berbagai sel dan organ tubuh lainnya. Hal itulah yang akan menimbulkan berbagal penyakit pada berbagai organ. Organ hati, yang merupakan pusat detoxifikasi, tidak luput dari serangan toxin yang berlebih tersebut. Salah satu - dampaknya bisa menyebabkan sirosis hati, yaitu matinya sel-sel hati sehingga jaringannya mengeras.
Ketika seseorang berpuasa, terjadilah proses pengeluaran zat-zat beracun dalam tubuh (detoxifikasi) yang bersifat total dan holistik (menyeluruh). Artinya, tujuan pembersihan bukan hanya menyangkut kepentingan fisik, tetapi juga mencakup pembersihan dan peningkatan energi dalam jiwa dan pikiran. Puasa dapat membantu mengendalikan stres dan memberi ketenangan jiwa dan juga dapat menjadi terapi penyakit tertentu, seperti depress, hipertensi, kanker kardiovaskular, sakit ginjal, atau diabetes melitus.
Sumber: Banjarmasin Post, Rabu, 05 Oktober 2005






Tidak ada komentar:
Posting Komentar